Rabu, 18 April 2012

Cerita Raja yang Tamak


Pada suatu hari ada seorang penebang kayu yang disuruh oleh sang raja untuk menebang semua kayu yang ada di sekiar istananya, setelah menebang beberapa pohon, penebang pohon itu mendengar bahwa ada sebatang pohon yang berbicara padanya "Hai kamu, wahai penebang kayu!" penebang kayu itu pun terkejut sekali, dengan gugup ia pun menjawab dengan gugup "Y-y-ya.... a-a-apakah ka-kamu me-me-memanggil sa-sa-saya??.." "Ya tentu saja wahai penebang kayu yang terhormat." "A-apakah a-ada ya-ya-yang bi-bisa sa-saya bantu?...." "Wahai penebang kayu, tolong jangan tebang saya karena umurku ini sudah sangat tua... akarku sudah sangat keras dan besar, dan aku sudah nyaman tinggal disini. Tolonglah aku... jangan tebang aku... tolonglah.." sang penebang kayu itu pun tersentuh hatinya dan ia pun tidak gugup dan takut lagi pada pohon itu, dan ia pun  menjawab  "Baiklah, aku tidak akan menebangmu walau bagaimana pun.." "tetapi..." sang penebang kayu pun tersentak dan berkata "tetapi kenapa?? aku kan sudah ikhlas untuk membiarkanmu tetap berada disini dan di desa ini pun hanya aku seorang yang menjadi penebang kayu..!!" "Bukan itu masalahnya wahai tukang kayu.." "lalu apa??.." "aku hanya takut bila kau dimarahi oleh sang raja..." "hmm...... itu tidaklah apa-apa, aku yang akan bertanggung jawab apa pun yang terjadi.." "terimakasih banyak wahai penebang kayu, sebagai tanda terimakasih aku akan memberikan apel emas ini untukmu" PLUK! (suara apel jatuh dari pohonnya) Sang penebang kayu itu pun tersenyum sambil melihat pohon itu ia pun memeluk pohon itu sambil berlinang air mata dan berkata "terimakasih wahai pohon yang bijaksana aku berhutang sekali padamu".

Suatu hari sang penebang kayu dipanggil oleh sang raja dan ia pun langsung menghadap ke raja dan berkata "apakah yang mulia raja memanggil saya??.." sambil menahan amarahnya sang raja berkata "tentu saja!, apakah kamu ingat?... apa yang telah aku perintah kan untukmu?? " “… tentu saja baginda. Anda menyuruh saya untuk menebang semua pohon yang disekitar istana baginda, lalu baginda apakah ada yang salah baginda??” “jangan main-main ya… anda berhadapan dengan seorang raja disini… setelah saya berkeliling istana saya, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa ada 1 pohon yang masih berdiri ditempatnya dan tak lecet sedikit pun, apakah yang terjadi gerangan??” sang penebang kayu pun bingung dan tidak tau harus berkata apa, kemudian secara terpaksa harus memperlihatkan apel emas itu kepada sang raja “Tetapi baginda, pohon itu telah memberikanku ini (sambil menunjukan apel emas)”  raja pun tergiur melihat apel emas itu dan berkata “Baiklah aku akan membiarkan mu untuk membiarkan pohon itu berada ditempatnya” sang penebang kayu itu pun lega hatinya.
            Pada suatu malam sang raja pun berpura-pura ingin memotong pohon itu dengan alasan ingin apel emas itu pohon itu pun berkata padanya "Wahai raja yang bijaksana, tolong jangan tebang saya karena umurku ini sudah sangat tua... akarku sudah sangat keras dan besar, dan aku sudah nyaman tinggal disini. Tolonglah aku... jangan tebang aku... tolonglah.." raja pun menjawab “Baiklah tetapi dengan satu syarat, berikan apel emas itu!”  “Bila itu permintaan mu tuan” pohon itu pun menjatuhkan satu persatu apel dari tangkainya, tak disangka apel-apel itu menimbun sang raja hingga akhirnya ia meninggal dunia.
[Amirah Hasna]

1 komentar: